Mereka “Berebut Lontong Tanpa Isi”

Oleh: Noval Setiaji (Alumni Turus, Mahasiswa Al-Azhar Cairo – Mesir)

 “Berebut lontong tanpa isi” nampaknya peribahasa yang paling tepat untuk mendeskripsikan perbuatan kaum Orientalis-Ateis yang kerap kali mendiskreditkan Islam. Entah dari mana ketidaksukaan mereka terhadap Islam berasal, Bagaimana tidak ? diantara beberapa agama besar lainnya; Islamlah yang menjadi objek dan target utama mereka. Bagai lahan basah, acapkali mereka menjadikan Islam sebagai bulan-bulanan tanpa henti; siang-malam.

 Serangan mereka terhadap Islam selalu membabi buta nan bertubi-tubi, akan tetapi bukannya dijauhi justru Islam menjadi objek kajian dan studi orang-orang non-Muslim yang menaruh rasa penasaran terhadap ajarannya. Demikianlah Islam, “Ya’luu wa laa yu’la ‘alaih”. Namun, usaha mereka bukan tanpa hasil, berapa banyak kita dengar  dan saksikan seorang Muslim berpikiran picik, meragukan atau bahkan murtad dari Islam ?

 Hal tersebut tidaklah mengherankan; jauhnya seorang muslim dari nilai-nilai Islam serta dangkalnya pengetahuan mereka terhadap keislaman membuat mereka seperti dalam gelap gulita tak ada cahaya, terombang-ambing dalam nestapa duka. Kesempatan seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh para Orientalis-Ateis dengan menebar benih-benih keraguan melalui statement-statement sesat yang terbungkus indah, pertanyaan-pertanyaan yang meragukan, distorsi sejarah dan beraneka cara lainnya.

 Sungguh disayangkan, seorang muslim yang tak mendalami identitasnya. Mungkin bagi hal layak umum (baca: awam) tidak terlalu diharuskan menanggapi tuduhan-tuduhan Orientalis-Ateis, sudahlah dianggap cukup mereka teguh dalam keimanan yang berasal dari pengetahuan mendasar mereka terhadap Islam walaupun mereka tak mampu menjawab atau menanggapi kecongkakkan mereka (Orientalis-Ateis).

 Menjadi tugas seorang ulama, ustadz dan santrilah membungkam mulut-mulut para orientali-ateis itu. Namun, minimnya minat baca lagi-lagi menjadi momok nomor wahid bagi umat “Iqro’” ini. Sehingga para musuh Islam ini semakin leluasa menebar virus-virus tersebut di tengah umat; umat pun limbung karena lalainya ulama & santri akan tugasnya.

 Bertolak dari hal tersebut, berikut kami coba sajikan beberapa benih virus yang tersebar berikut jawabannya sebagai langkah edukasi umat. Semoga Allah SWT. selalu meneguhkan keimanan kita. Amin.

  1. S: “Kenapa Tuhan kalian berfirman dalam Al-Qur’an terkadang menggunakan pronomina (kata ganti) tunggal dan terkadang menggunakan pronomina jamak untuk dirinya ? Bukankah ini menunjukkan Tuhan kalian lebih dari satu ?”

J: Allah SWT menggunakan pronomina jamak bertujuan untuk menunjukkan keagungan Nya (Lil ‘Adhomah) atau karena adanya perantara seperti malaikat. Sedangkan ketika berbicara tentang Teologi Tauhid maka Allah SWT menggunakan pronomina tunggal untuk menunjukkan keesan Nya.

  • S: “Bukankah Tuhan kalian Maha Berkuasa ? apakah Dia mampu menciptakan Tuhan seperti dirinya ? atau mampukah Dia menciptakan batu besar yang tak kuasa Dia angkat ?”

J: Pertanyaan ini kontradiktif. Allah SWT Maha Berkuasa menciptakan segalanya tanpa terkecuali, akan tetapi bukankah yang diciptakan itu akan disebut mahluk bukan Tuhan ? karena Tuhan itu Maha Pencipta bukan yang diciptakan.

Kemudian jika Tuhan tidak mampu, bukankah Dia tak layak disebut Tuhan. Jikalau Tuhan tak berkuasa sebatas mengangkat batu maka hal tersebut menafikan ke-Maha Kuasaannya, sedangkan salah satu sifat Allah SWT adalah Qudroh & Qodir.

  • S: “Nabi kalian bersabda bahwa perempuan itu kurang akal & agamanya, sedangkan tidak sedikit perempuan yang mengungguli laki-laki dari segi ilmu, karir ataupun lainnya. Bukankah hal tersebut diskriminatif ?”

J: Nabi SAW bersabda demikian bukan bermakna  bahwa perempuan itu kurang kecerdasannya, kemahirannya atau kecermatannya. Namun, makna akal dalam hadits tersebut adalah sesuatu yang mengontrol dan mengendalikan tindakkan manusia dan mendominasinya dalam beberapa kondisi (seperti ketakutan, kondisi berbahaya dan lain sebagainya) akal tersebutlah yang membuat keputusan atau tindakannya lebih bijak bukan berdasarkan perasaan. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang umum, bahwa makna akal dalam hadits tadi lebih dominan terdapat pada diri laki-laki.

 Demikian beberapa benih virus yang sering dilancarkan para Orientalis-Ateis untuk menyerang Islam. Sejatinya masih sangat banyak benih virus tersebar di sekitar umat, tetapi kami cukupkan terlebih dulu sampai pembahasan ini. Semoga bermanfaat. Amin.

*Diringkas & disajikan dari kitab Rudud Ulama Al-Muslimin ‘ala Syubuhat Al-Mulhidin wal Mustasyriqin Karya Syaikh Muhammad Yasin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *